Beranda lampung Diterjang Tsunami, Kawasan PPI Bom Kalianda Lampung Selatan Porak Poranda

Diterjang Tsunami, Kawasan PPI Bom Kalianda Lampung Selatan Porak Poranda

0 views
0
BERBAGI

Lampung Selatan,(Radarpembaruan.com) –  Kondisi PPI Kalianda pun telihat dipenuhi sampah yang terbawa gelombang.

Beberapa kapal nelayan pun terlihat karam tersapu gelombang. Beberapa di antaranya tersangkut di water break dermaga PPI Bom Kalianda.

Beberapa warung warga pun porak poranda.

Menurut Hasan, salah seorang nelayan, saat kejadian dirinya sedang berada di kapal. Ia tidak melaut karena sedang purnama.

“Tiba-tiba saya mendengar suara gemuruh. Keluar dari kapal saya melihat gelombang tinggi sekitar 3 meter. Saya langsung melarikan diri,” kata dia kepada Tribun, Minggu (23/12).

Tidak hanya PPI BOM Kalianda. Gelombang tinggi juga menghamtam sejumlah daerah pesisir di Lampung Selatan.

Dari data BPBD Lampung Selatan sampai pagi tadi di laporkan ada 7 korban meninggal dunia dan 100 lebih warga mengalami luka-luka.(dedi/tribunlampung)

Penyebab Tsunami

Penyebab tsunami di wilayah perairan Selat Sunda bukan dipicu oleh gempa melainkan cuaca buruk dan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Demikian dikatakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati.

“Gelombang tinggi terjadi karena cuaca,” ujar Dwikorita dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Sabtu (23/12/2018).

 

BMKG sebenarnya telah mendeteksi dan memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku dari tanggal 22 Desember pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda.

Selain karena cuaca, tsunami juga terjadi karena erupsi Gunung Anak Krakatau namun karena seismometer rusak maka tidak diduga akan terjadi tsunami.

“BMKG berkoordinasi dengan Badan Geologi melaporkan bahwa pada 21.03 WIB Gunung Krakatau erupsi kembali sehingga peralatan seismometer setempat rusak, tetapi seismic Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus,” jelas dia.

Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa tsunami tersebut tidak disebabkan oleh aktifitas gempabumi tektonik namun sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi ± 24 detik dengan frekwensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB.

Adapun berdasarkan hasil pengamatan tidegauge Serang di Pantai Jambu, Desa Bulakan, Cinangka, Serang, tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian gelombang 0,9 meter.

“Kemudian tidegauge Banten di pelabuhan Ciwandan, tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0.35 meter,” kata Dwikorita.

Selanjutnya, lewat tidegauge Kota Agung di Desa Kota Agung, Kota Agung, Lampung tercatat pukul 21.35 WIB ketinggian 0.36 meter.

Yang terakhir tidegauge Pelabuhan Panjang, Kota Bandar Lampung tercatat pukul 21.53 WIB ketinggian 0.28 meter.

“Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga diimbau untuk tetap menjauh dari pantai perairan Selat Sunda, hingga ada perkembangan informasi dari BMKG dan Badan Geologi,” tutupnya.

Korban Tewas, luka-luka, dan hilang

Dampak tsunami yang menerjang pantai di Selat Sunda, khususnya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan dan Serang terus bertambah.

Hingga Minggu 23 Desember 2018 pukul 07.00 WIB, data sementara jumlah korban dari bencana tsunami di Selat Sunda tercatat 43 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka dan 2 orang hilang.

Kerugian fisik meliputi 430 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, 10 kapal rusak berat dan puluhan rusak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya kepada Tribunlampung.co.id, Minggu 23 Desember 2018 pagi.

“Untuk jumlah pengungsi, saat ini masih dalam pendataan. Pandeglang adalah daerah yang paling parah terdampak tsunami,” ujar Sutopo.

Sutopo menjelaskan, di Kabupaten Pandeglang tercatat 33 orang meninggal dunia, 491 orang luka-luka, 400 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, dan 10 kapal rusak berat.

Daerah yang terdampak, terus Sutopo, adalah permukiman dan kawasan wisata di sepanjang Pantai seperti Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang dan Carita.

“Saat kejadian banyak wisatawan berkunjung di pantai sepanjang Pandeglang,” tuturnya.

Kemudian, di Lampung Selatan, jelas Sutopo, sebanyak 7 orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat.

Sedangkan di Serang tercatat 3 orang meninggal dunia, 4 orang luka-luka dan 2 orang hilang.

“Pendataan masih dilakukan. Kemungkinan data korban dan kerusakan akan bertambah. Penanganan darurat juga terus dilalukan. Status tanggap darurat dan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum dan lainnya masih disiapkan. Alat berat juga dikerahkan untuk membantu evakuasi dan perbaikan darurat,” papar Sutopo.

Sutopo juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini.

“BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya,” tandas Sutopo.(trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here