Beranda Seputar Lampung KPK Kemungkinan Telisik Nama Baru dari Keterangan Mustafa

KPK Kemungkinan Telisik Nama Baru dari Keterangan Mustafa

13 views
0
BERBAGI

LAMPUNG (radarpembaruan.com) — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mencermati dan menelisik kemungkinan adanya nama-nama baru yang muncul dalam persidangan Tipikor kasus mantan Bupati Lampung Tengah Mustafa, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (7/10/2019) lalu.

“Kalau bahasa Humas KPK akan menjadi perhatian penyidik jika nama-nama kesebut di persidangan,” ujar Kepala Satuan Tugas Koordinasi Supervisi Pencegahan Koordinator Wilayah (Kasatgas Korsupgah Korwil) III KPK, Dian Patria, kepada awak media di Gedung Balai Keratun Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Rabu (16/10/2019).

Ia mengatakan, walaupun ‘nyanyian’ Mustafa itu terungkap dalam persidangan, namun belum bisa digunakan untuk menentukan bersalah atau tidaknya seseorang di mata hukum.

“Tidak cukup hanya orang yang bicara di persidangan saja, kan tidak bisa langsung dipakai. Tetap harus ada dua alat bukti yang cukup,” katanya.

Sebelumnya, dari persidangan kasus mantan Bupati Lampung Tengah di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (7/10/2019) lalu, Mustafa mengaku sempat menyerahkan uang sebesar Rp18 miliar kepada petinggi PKB Provinsi Lampung untuk mahar sebagai bakal calon kontestan Pilgub 2018 lalu.

 

Dalam persidangan itu mantan bupati Lampung Tengah, Mustafa, merasa dikhianati oleh Nunik –panggilan Chusnunia Chalim– yang kini jadi wakil gubernur Lampung berpasangan dengan Arinal Djunaidi.

Diketahui, pada (5/6/2019), Nunik sempat diperiksa KPK terkait kasus ini. Sebelumnya, mantan bupati Lampung Timur itu juga pernah diperiksa KPK pada awal Maret lalu, (1/3/2019).

“PKB mengingkari saya. Saya merasa dimanfaatkan, dipermainkan dan dibohongi Saudari Chusnunia Chalim,” katanya pada sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (7/10/2019).

Uang “membeli” perahu senilai Rp18 Miliar yang diserahkan kepada dua petinggi partai akhirnya dikembalikan Rp14 miliar kepada Mustafa. Sisanya, Rp4 Miliar, belum dikembalikan.

Menurut Mustafa, dia memperoleh Rp18 miliar itu dari meminjam uang ayah kandung, kerabat, dan menggadaikan asetnya. Berbeda dengan pengakuan Mustafa, menurut JPU Sobari, uang Rp4 miliar yang belum dikembalikan berasal dari “ijon” proyek.

Mustafa membenarkan ada pengumpulan uang Rp12,5 miliar dari dua pengusaha, yakni Rp7,5 miliar “setoran” dari Budi Winarto alias Ali dan Rp5 miliar dari Simon Susilo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here